Senin, 08 April 2013

Proses Pembuatan Asuransi


Gambar diatas merupakan ilustrasi dari pihak – pihak terkait dalam proses penerbitan asuransi. Yang berperan sebagai penanggung adalah perusahaan asuransi. Kemudian yang berperan sebagai pemegang polis adlah orang yang membayaar premi dari polis tersebut. Sedangkan untuk tertanggung adalah pihak yang berperan sebagai orang yang dibayarkan preminya oleh pemegang polis. Beneficiary adalah pihak yang akan menerima manfaat.

Terdapat 2 jenis perusahaan asuransi yaitu asuransi jiwa dan asuransi general. Perusahaan asuransi jiwa adalah perusahaan asuransi yang mengelola asuransi jiwa atau asuransi hidup seseorang dan lebih mementingkan pada kepentungan perusahaan. Perusahaan asuransi jiwa ini memiliki 2 bentuk lagi yaitu branches(orang – orang yang menarkan produk di perusahaan asuransi tersebut disebut orang – orang cabang) dan agency(orang yang menawarkan produk disebut agen). Sedangkan perusahaan asuransi general adalah perusahaan asuransi yang mengelola asuransi barang dan lebih mementingkan pada kepentingan nasabah. Perusahaan asuransi general yang menawarkan produknya disebut broker.

Pemegang polis dan tertanggung boleh orang yang sama sedangkan untuk beneficiary harus merupakan orang yang berbeda dari tertanggung atau pemegang polis. Selain itu sebaiknya beneficiary tidak diberitahukan bahwa ia adalah beneficiary karena dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti mencelakai sang pemegang polis.

Langkah- langkah dalam proses pembuatan asuransi adalah :

1.       Prospek (Market Research)
Dalam tahap ini, seorang agen dalam perusahaan asuransi tersebut melakukan penganalisisan terhadap potensial customer yaitu mencari tahu kebutuhan calon customer dengan disesuiakan terhadap pemasukan yang dimiliki calon customer, selain itu juga menawarkan produk yang dijual oleh perusahaan asuransi tersebut.

2.       Pembuatan SPAJ (Surat Permintaan Asuransi Jiwa)
Ini merupakan tahap kedua. Setelah calon customer di prospek dan tertarik untuk mengikuti asuransi, langkah selanjutnya adalah pengisian surat SPAJ. Dalam surat ini berisikan data calon customer dimulai dari nama, alamat, usia, pekerjaan, data kesehatan dan lainnya hingga berapa besarnya premi yang akan dibayarkan. Selain itu dalam surat ini juga berisikan data beneficiarynya dan hubungan apa yang dimiliki antara pemegang polis dan beneficiary.

3.       Underwriting (Analisis Risk)
Setelah pengisian SPAJ, kemudian SPAJ dikirim ke underwriter untuk dilakukan proses analisis resiko seperti data nasabah, data tingkat kematian, data tingkat bunga, alternative tempat investasi, data klaim, data perilaku seperti populasi penduduk dan pendapatan. Jika pada proses ini underwriter menolak maka calon customer tidak dapat diterima sebagai pemegang asuransi.

4.       Pricing dan Validasi
Pada tahap ini dilakukan penentuan program atau paket asuransi yang akan digunakan dan total cadangan yang diinginkan.

5.       Financing dan Report
Tahap ini dilakukan penetapan cadangan berdasarkan Risk Based Capital (RBC) sebesar 120% yang diperoleh dari jumlah cadangan klaim dan premi. Minimal premi sebesar 40% agar perusahaan tidak bangkrut sehingga perusahaan asuransi harus melakukan investasi liquid atau short term

6.       Maintenance dan Service
Setelah polis asuransi terbit, maka tahap terakhir adalah agen harus memberikan polis tersebut kepada nasabah dan tetap melakukan pelayanan dengan baik jika nasabah membutuhkan sang agen maka agen harus siap saat dibutuhkan dan agen harus tetap menjaga hubungan baik dengan nasabah. Seperti, jika nasabah ingin klaim maka nasabah dapat menghubungi agen yang bersangkutan untuk dapat membantu mengurusinya.
Setelah tahap ini maka agen harus kemabali lagi melakukan prospek dan melakukan tahap – tahap selanjutnya.


Rabu, 03 April 2013

CONTOH ILUSTRASI CADANGAN KLAIM (GTL & GE)


Contoh kasus Group Term Life :

Terdapat sebuah grup yang terdiri dari 150 orang dengan rata-rata usia 35 tahun menjadi peserta asuransi jiwa. Pengeluaran rata-rata mereka perbulan adalah sebesar 5 juta. Mereka mengikuti program asuransi dengan jangka waktu 35 tahun dan dengan bunga pertahun sebesar 10%. Berapa besar premi tahunan yang harus mereka bayarkan dan berapa besar uang pertanggungan yang akan mereka peroleh?

Dari contoh kasus tersebut maka dapat diketahui :

 


Setelah mengetahui jumlah premi, maka dapat dibentuk cadangan klaimnya seperti pada tabel berikut :

Cadangan klaim =
F(1) = Premi
F(2) = Premi + (bunga*premi) 
F(3) = Premi + F(2) 
dst... hingga jangka asuransi selesai


Contoh kasus Group Endowment :

Terdapat sebuah grup yang terdiri dari 150 orang dengan rata-rata usia 35 tahun menjadi peserta asuransi jiwa. Pengeluaran rata-rata mereka perbulan adalah sebesar 5 juta. Mereka mengikuti program asuransi dengan jangka waktu 20 tahun dan dengan bunga pertahun sebesar 10%. Berapa besar premi tahunan yang harus mereka bayarkan dan berapa besar uang pertanggungan yang akan mereka peroleh? 

 sehingga dapat diperoleh :


Cadangan klaim dapat dilihat dari tabel berikut :

Cadangan klaim =

F(1) = Premi
F(2) = Premi + (bunga*premi) – (risk*premi).
F(3) = Premi + F(2) - (risk*premi)
dst... hingga jangka asuransi selesai




Minggu, 31 Maret 2013

Cadangan Klaim


Suatu perusahaan asuransi jiwa harus memiliki cadangan klaim karena suatu saat tertentu, orang yang ikut dalam asuransi pasti akan mengajukan klaim. Cadangan Klaim itu sendiri adalah maksimum sebesar klaim yang disepakati tetapi belum dibayar ditambah klaim yang sedang dalam proses. Pada gambar tersebut menunujukkan periode asuransi seseorang yang mengikuti asuransi (tertanggung), missal orang tersebut meninggal disaat periode pembayaran premi maka orang tersebut akan mendapatkan uang pertanggungan sehingga dengan demikian perusahaan harus menyiapkan uang pertanggungan lebih banyak jika orang tersebut meninggal pada tahun ke 15 karena resiko orang meninggal akan lebih tinggi.
Cadangan klaim yang harus disediakan suatu perusahaan asuransi harus semakin tinggi sejalan dengan tingkat resiko yang juga semakin tinggi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan investasi.

Faktor – faktor yang harus dihitung dalam menentukkan cadangan klaim :
1.       Berapa banyak premi yang terkumpul pada periode pembayaran yang sudah ditentukkan
2.       Berapa banyak cadangan yang harus disediakan dan dimulai dari kapannya
3.       Jumlah bunganya harus berapa

Rate bunga dalam lembaga keuangan : jika seorang menginvestasikan sebesar 1 – 10 M maka akan mendapat 8%, jika investasi sebesar 11 – 25 M maka akan mendapat 8.5%, jika investasi sebesar 26 – 50 maka akan mendapatkan bunga sebesar 9%, dan jika investasi lebih dari 50 M maka akan mendapat bunga 11%

Jenis – jenis penggambaran grafik cadangan klaim terdapat 2 yaitu personal (penggambaran grafik untuk satu orang satu grafik) kemudian grup (penggambaran grafik secara rata – rata usia orang yang mengikuti asuransi), jenis grup terbagi lagi menjadi ada grup yang langsung meninggal dan grup kombinasi (endhowment).
Faktor – faktor yang perlu diperhatikan dalam pembentukan cadangan klaim :
1.       Informasi, seperti informasi mengenai investasi, bunga investasi
2.       Jenis penggambaran grafik secara personal atau grup
3.       Bentuk program asuransi

Missal terdapat 2 program asuransi,
Program 1 : seandainya peserta menyicil per tahun, pada akhir tahun ke 10 masih tetap hidup, maka peserta tidak akan mendapat Uang Pertanggungan
Program 2 : seandainya peserta menyicil per tahun, pada saat akhir tahun ke 10 masih tetap hidup, sehingga di tahun ke 10 peserta akan mendapat bunga sebesar 10%, jika masih berlanjut hingga tahun ke 12 maka akan mendapat bunga 20% dari UP, dan jika peserta masih hidup hingga tahun ke 14 dan masih mengikuti pembayaran premi maka peserta akan mendapat Bunga 30% dari UP
Banyak orang yang tertarik pada program 2 sehingga perusahaan asuransi harus melakukan investasi untuk melengkapi cadangan klaimnya dan memberika bunga kepada peserta asuransi yang masih tetap bertahan. Namun perusahaan ini harus dilakukan minimal 100 orang.
Hal ini dapat dilihat berdasarkan  fungsi seperti berikut :
F(1) = 500000-risk
F(2) = (500000 – i%) - risk



Setelah melakukan proses actuary, maka perusahaan asuransi harus membuat cadangan klaim dengan cara investasi, kemudian cadangan investasi dapat dihitung melalui premi yang dibayarkan. Penentuan premi harus didasarkan pada jumlah komisi yang akan diberikan kepada petugas agenasuransi dan biaya operational perusahaan asuransi (Loading Factor). Penetuan cadangan premi didasarkan pada resiko kematian yang tinggi.

Terdapat contoh kasus untuk perhitungan keuntungan perusahaan, misalnya terdapat 10 orang yang mengikuti asuransi. Maka suatu perusahaan asuransi harus menyediakan 100juta dalam 10 tahun, kemudian probabilitas orang tersebut meninggal adalah 10 sehingga keuntungan perusahan yang didapat adalah 100juta – 10juta = 90juta + i(10-1)

Jumat, 08 Maret 2013

Pengertian Asuransi


Gambar tersebut dapat menjelaskan cara kerja asuransi. Dimisalkan terdapat 10 orang dalam suatu perkumpulan, apabila salah 1 dari mereka ada yang meninggal maka akan diberikan santunan. Jika 1 orang memberikan sebesar 10.000 maka dijumlahkan semuanya sebesar 100.000. namun jika 9 orang sudah meninggal, 1 orang yang tersisa apakah akan mendapatkan santunan juga? Dan darimana santunannya itu berasal padahal seluruh teman-temannya sudah meninggal. Lalu bagaimana caranya agar setiap orang dapat mendapatkan 100.000 semuanya tanpa terkecuali? Hal ini dapat dilakukan dengan meenggunakan 1 orang yang akan emngelola uang mereka namun orang tersebut tidak boleh ikut serta dalam anggota 10 orang tersebut.

Lalu permasalahannya bagaimana cara kerja orang tersebut agar tetap dapat memberikan santunan sebesar 100.000 semuanya sama besar? Dapat dimisalkan 1 orang ini bernama A, maka cara yang dapat dilakukan si A adalah menginvestasikan uang kesepuluh orang tersebut. Jika dalam jangka waktu tertentu tidak ada yang meninggal maka uang tersebut dapat dikembalikan lagi kepada 10 orang tersebut atau diberikan kepada si A. tentunya si A ini tidak bekerja secara sukarela, ada beberapa bagian dari hasil investasi tersebut yang diberikan kepada Si A.

Dari contoh 10 orang diatas yang membayar premi (uang iuran kesepuluh orang tersebut dengan besar yang sudah disepakati bersama), dengan besar bunga sebesar 10% selama 1 tahun, maka hal tersebut menunjukkan 1 orang dari 10 orang tersebut harus membayar premi : 10.000 dan akan mendapatkan UP(Uang Peranggungan) sebesar : 10.000+(10.000*10%+12).
Kemudian dari sisi A, akan mendapatkan uang sebesar :
100.000+6.000 = 106.000 (6.000 merupakan bunga investasi 6% dari 100.000)
106.000 – 22.000 = 84.000

Sehingga menunjukkan bahwa bunga investasi lebih kecil dari Bunga asuransi.
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi dalam perhitungan jumlah premi yaitu usia, ekonomi, pola hidup, kesehatan, jenis kelamin, hobi, pekerjaan, dan culture. Selain itu juga terdapat tabel mortalitas penduduk yang dapat menghitung prosentasi kemungkinan meninggal orang dalam per tahun.
Terdapata beberpah hal yang perlu diperhatikan untuk menghitung premi yaitu :
1.     Future Value dan Present Value
Future Value adalah nilai untuk menentukkan nilai uang di masa yang akan datang, memiliki rumus :

Present Value adalah nilai untuk menentukkan nilai di masa sekarang, dengan rumus :
Dengan keterangan : FV = Future Value, PV = Present Value, I = BUnga, n = jangka waktu



2.       Resiko Kematian
Resiko Kematian dihitung berdasarkan banyaknya orang. Hal itu dapat dilihat dengan rumus :


Dengan keterangan : Px = tingkat kehidupan, Qx = tingkat kematian


3.       Biaya Operasional
Loading Factor = Prosentase x Mortality (tingkat kematian)
Atau
Loading Factor – Prosentase x Morbidity (tingkat kehidupan)

Kemudian secara umum asuransi di Indonesia dibagi menjadi 3 yaitu :
1.    Asuransi jiwa (life insurance)
yaitu asuransi yang berhubungan dengan jiwa atau hidup seseorang. Jadi klaim dapat dilakukan apabila orang tersebut meninggal atau sakit.
Jenis – jenis asuransi jiwa dibagi menjadi :
a. Term Life (Jiwa Berjangka) yaitu asuransi jiwa dengan Uang pertanggungan hanya akan diberikan jika orang tersebut meninggal
b.Endowment yaitu merupakan kebalikan dari term life, bahwa asuransi dengan uang pertanggungan akan diberikan selama hidup, dan jika orang tersebut meninggal tidak akan mendapat apa – apa
c. Dwiguna yaitu merupakan asuransi dengan memberikan uang pertanggungan baik porang tersebut masih dalam keadaan hidup ataupun meninggal
2.     Asuransi Umum (General)
Yaitu asuransi untuk harta benda seperti mobil, resiko bisnis, property rumah, dan lain lain
3.     Reasuransi
Yaitu kegiatan asuransi dengan memberikan uang pertanggungan baik untuk jiwa maupun harta benda. Namun kebanyakan nasabah dari perusahan reasuransi ini adalah perusahaan asuransi.

Asuransi jiwa maupun asuransi umum merupakan asuransi yang berhubungan dengan produk kesehatan (health) yaitu menjamin kesehatan jiwa jika dirawat di rumah sakit, dan kecelakaan individu (personal accident). Selain itu 2 produk ini juga mengcover kondisi cacat misalnya sebuah pabrik mengasuransikan karyawannya, jika karyawan tersebut mengalami kecelakaan kerja seperti jari terputus saat kerja maka akan diberikan uang pertanggungan.

Prinsip yang harus dilakukan dalam suatu asuransi adalah :
a.       Ekonomi
b.      Perjanjian antara premi dan UP
c.       Resiko yang dapat diukur
d.      Mendapat perlakuan yang sama dalam hal uang pertanggungan
e.      Mengganti potensi kerugian
f.        Beneficiaring, missal antar pemegang polis dan tertanggung. Jika C sebagai orang tua dari si A dan yang membayarkan premi untuk si A, namun yang menerima manfaat adalah si B (beneficiaring) dan si B merupakan istri dari Si A. untuk menjadi penerima manfaat harus berhubungan darah dengan orang yang membayarkan premi
g.       Tertanggung
h.      Insurable Intersest
i.         Resiko yang normal, misalnya bukan karena rencana pembunuhan

Suatu asuransi harus memiliki :
a.       Data nasabah yang berkaitan dengan klaim dan uang pertanggungan
b.      Tabel resiko
c.       Data investasi

Setiap asuransi harus mengalokasikan premi nasabah dalm dalam bentuk cadangan solvabilitas.
Dalam suatu asuransi ataupun lembaga keuangan lainnya menggunakan hokum the Law of Large Number, maksudnya bahwa asuransi tidak akan berjalan jika pesertanya hanya 1 orang, akrena semakin banyak orang semakin kecil resikonya yang ditanggung.

Kamis, 07 Maret 2013

Analisi Jurnal Mengenai Keagenan Asuransi


ANALISIS JURNAL
JUDUL        : ANALISIS KARAKTERISTIK PEKERJAAN AGEN ASURANSI JIWA BERDASARKAN MODEL KARAKTERISTIK PEKERJAAN DARI HACKMAN DAN OLDHAM
PENULIS    : Mery Citra Sondari

Pada kali ini saya akan menganalisis jurnal mengenai berbagai karakteristik seorang agen asuransi jiwa berdasarkan model karakteristik pekerjaan dari Hackman dan Oldham. Pada jurnal ini, penelitian dilakukan di Bandung dengan subyek penelitian pada PT. Jiwasraya, Persero; Astra CGM Life; dan Panin Life. Penelitian ini dilakukan secara ex post facto, dimana peneliti hanya melaporkan apa yang telah terjadi atau sedang terjadi. Berdasarkan dimensi waktu, penelitian ini dirancang secara cross-sectional dimana penelitian pengambil sample dari populasi pada satu waktu tertentu. Penelitian ini juga dfilakukan dengan metode survey dimana pengumpulan informasi dilakukan secara empirical dan dilakukan di tempat kejadian secara langsung.
Pada saat ini industry asuransi jiwa di Indonesia memiliki prospek sangat cerah. Pertumbuhannya sekitar 20%-25% per tahun. Dan dapat dilihat dari pangsa pasar di Indonesia bahwa dari 225 juta jiwa penduduk Indonesia saat ini hanya baru tergarap sekitar 3 persen. Selain itu pertumbuhan industry ini juga bisa dilihat dari banyaknya agen asuransi yang terus berkembang. Namun perkembangan agen asuransi tersebut tidak diikutkan dengan kualifikasi karakteristik agen yang cukup maksimal. Hal tersebut ditandai dengan tingginya drop out agen, yang berarti bahwa agen tersebut keluar atau tidak bertanggung jawab terhapat pekerjaannya . Sehingga hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan industry asuransi jiwa.

Berdasarkan penelitian bahwa drop aout agen bisa terjadi akibat beberapa karakteristik, yang pertama yaitu tidak adanya motivasi diri dari agen tersebut selain itu persepsi agen asuransi terhadap karakteristik pekerjaan itu sendiri juga perlu dipertimbangkan sehingga drop out agen bisa terjadi. Seorang agen perlu menguasai trial close dan  handling objection. Jika seorang agen dapat menguasai tahapan untuk mengatasi penolakan calon pemilik asuransi maka besar kemungkinannya bahwa seorang agen tersebut dapat melakukan penjualan. Selain kedua hal tersebut, kemandirian dari seorang agen juga menentukkan, bahwa pekerjaan ini memerlukan kemandirian seorang agen untuk bekerja sendiri daripada bekerja di kantor. Sehingga semuanya tergantung dari rajin atau tidaknya agen tersebut untuk mencapai target dari pekerjaannya. Dan yang terakhir adalah mengenai pandangan masyarakat terhadap asuransi sendiri. Di Indonesia pandangan terhadap asuransi sendiri belum terlalu bagus sehingga tugas dari seorang agen untuk membuat pandangan yang baik terhadap asuransi.

Menurut Hackman dan Oldham mengatakan bahwa motivasi dan kepuasan akan muncul apabila di dalam diri seorang tersebut telah muncul suatu perasaan psikologis akibat persepsi pemangku pekerjaan atas karakteristik pekerjaannya. Keadaan – keadaan psikologis itu dinamakan Critical Psychological States, yang terdiri dari : a. pengalaman akan arti penting dari pekerjaan, b. pengalaman akan tanggung jawab yang dialami untuk hasil pekerjaan, c. pengetahuan dari hasil yang sbeenernya dari kegiatan kerja. Semakin baik ketiga keadaan psikologis tersebut dirasakan oleh seorang karyawan makan semakin baik pula perasaan karyawan atas diri mereka sendiri saat melakukan pekerjaan dengan baik.

Berdasarkan Hackman dan Oldham terdapat 8 karakteristik yang mempengarruhi agar motivasi dan kepuasan terhadap perkerjaan seorang agen. Dalam jurnal ini telah dilakukan penelitian, dan hasilnya mengatakan bahwa yang pertama berdasarkan variasi keterampilan, 45% responden sangat setuju bahwa pekerjaan seorang agen asuransi memrlukan beragam keterampilan seperti keterampilan dalam penjualan, bernegosiasi, berhubungan dengan orang lain, keterampilan persuasive, dan lainnya. Kedua adalah identitas tugas, 35% responden setuju bahwa pekerjaan seorang agen memerlukan identitas tugas yang tinggi dimana seorang agen harus menyelesaikan keseluruhan proses bisnis asuransi, dimulai dari prospek hingga pemeliharaan pelanggannya. Ketiga adalah kebebasan (autonomy), 40% responden  tidak setuju bahwa pekerjaan ini memrlukan kebebasan artinya tidak diwajibkan untuk hadir di kantor setiap hari, kemudian agen juga memiliki kebebasan dlam melakukan pendekaan kepada prospek, cara penjualan, dan lain lain. Hal ini menunjukan hal yang berbeda dengan apa yang dikatakan Hackman dan Oldham.  Keempat adalah Nilai penting tugas, sebanyak 45% responden sangat setuju bahwa pekerjaan ini memiliki tugas penting karena pekerjaan ini dapat menawarkan sesuatu yang dapat memberikan perlindungan kepada pemegang polis asuransinyya. Kelima adalah Umpan balik, terdapat 52% responden setuju bahwa seorang agen asuransi mampu langsung memberika umpan balik kepada konsumen mengenai hal yang ditanyakan oleh konsumen, seperti misalnya seorang agen dapat langsung megira – ngira calon konsumen dapat diterima atau tidak oleh underwriting atau lainnya. Keenam adalah pengalaman akan arti penting dari pekerjaan, sebesar 48% responden setuju bahwa seorang agen akan merasakan bahwa dari pekerjaannya akan mendapatkan pengalaman – pengalaman penting untuk kehidupannya sehingga mereka akan lebih termotivasi. Ketujuh, pengalaman akan tanggung jawab yang dialami untuk hasil pekerjaan, 37% responden tidak setuju, hal ini menunjukkan hal yang berbeda dengan yang diaktakan Hackman dan Oldham bahwa seharusnya pengalaman akan tanggung jawab dirasakan seorang agen saat melakukan pekerjaannya. Dan yang terakhir adalah pengetahuan dari hasil yang sebenernya dari kegiatan kerja, 62% rsponden setuju bahwa seorang agen harus memiliki pengetahuan yang cukup luas untuk menjawab setiap pertanyaan klien.

Dapat disimpulkan bahwa agen asuransi jiwa yang menjadi responden sudah memiliki persepsi yang baik atas pekerjaan mereka. Karakteristik yang perlu diperhatikan seperti dari hasil penelitian nomeor tiga mengenai kebebesan dalam bekerja, bahwa pada dasarnya pekerjaan seorang agen seharusnya bebas namun menurut pandangan para responden agen tidak seperti itu, hal itu dikarenakan kemungkinan kebijakan perusahaan yang terlalu rinci mengatur tata laksana pekerjaan asuransi. Selain itu keadaan psiokologis kritis seorang agen, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa para responden sudah merasakan pengalaman psikologis yang positif sesuai dengan teori yang ada. Namun terdapat hal yang perlu diperhatikan seperti berdasarkan hasil penelitian nomor tujuh bahwa para responden kurang mengalami perasaan tanggung jawab akan pekerjaannya. Hal itu mungkin disebabkan karena kurangnya kebebasan yang mereka dapatkan.

Aanalisi Jurnal Mengenai Asuransi


ANALISIS JURNAL
JUDUL          : SISTEM PENGELOLAAN DATA POLIS ASURANSI JIWA BERBASIS WEB
 (STUDI KASUS : PT. INIDCA SATYATMA BESTARI)
PENGARANG: Tut Wuri HAndayani, R.A PAramita Mayadewi, Taufan Tambunan

Saya menganalisis jurnal mengenai pembuatan suatu sistem pengelolaan data polis asuransi jiwa yang dapat dilakukan secara online pada PT. Indica Biestari. Pada saat ini asuransi sudah merupakan hal yang sangat lumrah dikalangan masyarakat karena mereka sudah mengetahui bahwa asuransi dapat emmbantu dalam menawarkan sebuah manajemen resiko berupa penggantian secara finansial bagi para penggunanya. Perusahaan Indica Satyatma Bestari ini bergerak pada bidang asuransi jiwa. Asuransi jiwa merupakan asuransi yang memberikan ganti rugi berupa Uang Pertanggungan ketika seorang tersebut sakit atau meninggal. Oleh karena sudah banyak yang menggunakan asuransi di kalangan masyarakat maka pada jurnal ini akan dibuat suatu sistem yang dapat emnyimpan dan mengelola data pribadi klien, mempermudah sistem pendaftaran asuransi dengan pendaftraan awal secara online, dan dapat melakukan pelaporan jumalh premi yang dibayarkan oleh klien, serta dapat menyimpan bukti transfer klien jika sudah membayar premi.
Pada studi kasus ini, pembuatan sistem dilakukan dengan metodologi Software Development Life Cyle dan metodologi waterfall. Hal yang dilakukan penulis adalah menganalisa dan merancang kebutuhan sistem. Pertama,  menganalisa kebutuhan dan sistem yang akan dibuat, yaitu adalah membuat data flow diagram (DFD) untuk mengelola data klien, mengelola data asuransi, mengelola proses pembayaran premi, dan yang terakhir adalah DFD untuk reporting. Selanjutnya adalah menganalisa kebutuhan sistem dengan membuat entity relationship diagram (ERD) dan membuat skema relasi. Seluruh kegiatan ini berguna untuk mempermudah dalam perancangan sistem tersebut. Sehingga dapat disimpulakan bahwa sistem ini berguna untuk perhitungan jumlah premi, klienpun dapat dengan mudah melihat jumlah tagihan premi serta dapat mengupload bukti pembayaran premi yang sudah dibayarkan, dan yang terakhir adalah klien dapat melakukan pendaftaran sevcara online. 

Selasa, 05 Maret 2013

Lembaga Keuangan


Bank adalah suatu lembaga keuangan yang memiliki peranan penting dalam arus aliran uang di dalam kehidupan masyarakat. Memiliki peranan penting karena banyaknya uang yang harus dikontrol dan dikelola ataupun yang dipinjam oleh masyarakat dalam negara tersebut. Dana keuangan yang harus dikelola oleh bank terbagi menjadi 2 jenis yaitu simpanan uang yang dikelola bank disebut dengan Source of Fund dan yang lainnya adalah uang yang harus dikontrol oleh bank disebut dengan Use of Fund.
Source of Fund merupakan bagian kewajiban dari bank (Liabilities) dan terbagi menjadi Deposit, Securities, dan Capital. Sedangkan Use of Fund merupakan suatu asset yang dimiliki oleh bank. Asset ini terbagi menjadi kas uang tunai, simpanan di Bank Indonesia, kredit, dan other asset.
Berikut adalah penggambarannya secara rinci :
LIABILITIES (KEWAJIBAN)
1.       Deposit
Deposit adalah produk bank yang digunakan sebagai simpanan uang masyarakat setiap masyarakat yang melakukan penyimpanan uang di bank secara deposit akan mendapat imbalan yang disebut bunga. Deposit terbagi menjadi :
a.       Time Deposit atau Deposito
Merupakan uang yang disimpan oleh masyarakat ke bank, yang penarikannya dapat dilakukan setelah masa yang diperjanjikan
b.      Saving Deposit atau Tabungan
Merupakan uang yang disimpan masyarakat di bank
c.       Demand Deposit atau Giro
Merupakan uang yang disimpan oleh masyarakat ke bank, dimana penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek dan surat giro.

2.       Securities
Securities merupakan surat – surat berharga yang disimpan di bank. Surat berharga ini disebut juga obligasi. Biasanya dana obligasi ini digunakan untuk bertransaksi di pasar modal. Masyarakat yang menyimpan uang dalam bentuk obligasi di bank juga akan mendapatkan imbalan berupa bunga.

3.       Capital atau Modal
Capital merupakan modal pokok dalam perdagangan. Capital terbagi menjadi :
a.       Modal disetor
Merupakan simpanan pemilik modal yang digunakan sebagai modal pokok dalam perdagangan
b.      Laba ditahan
Merupakan laba yang tetap disimpan oleh pemilik modal untuk mengembangkan usahanya. Selain itu terdapat dividen yang merupakan keuntungan bersih yang didapat dari keuntungan total dikurangi dengan laba ditahan.
c.       Stock atau saham
Merupakan surat bukti kepemilikan modal suatu perseroan terbatas terhadap ha katas dividen yang disetor / disimpan di bank

ASSET (KEKAYAAN)
1.     Kas Uang Tunai
Merupakan kas wajib setiap bank yang disimpan di bank pusat atau disebut juga Bank Indonesia. Besarnya uang yang kas yang harus diisimpan bank tersebut minimal 8% dari deposit yang ada di bank tersebut.

2.    Loan atau Kredit
Merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh bank untuk medapatkan keuntungan. Yaitu dengan cara memberi pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan, kemudian masyarakat yang membutuhkan tersebut akan mengembalikan uang yang dipinjam dan membayar sejumlah bunga yang sudah ditetapkan di awal kepada bank. Besarnya bunga yang didapat dari memberikan pinjaman dana (kredit) harus lebih besar dari bunga yang diberikan kepada masyarakat yang sudah menyimpan uangnya di bank sehingga hasil selisih itulah yang dijadikan sebagai keuntungan untuk bank.
Bank dalam memberikan pinjaman juga harus berdasarkan suatu rumus yang sudah ditentukan, dan disebut dengan Loan To Deposit Ratio (LDR)
3.    Other Asset
Merupakan asset kekayaan yang dimiliki bank dalam bentuk kantor cabang, jumlah mobil kantor, dan inventoris lainnya



LIKUIDITAS DAN KLIRING
Seperti yang dijelaskan pada bagian kas uang tunai bahwa setiap bank harus menyimpan minimal 8% kepada bank Indonesia. Jika simpanan bank tersebut kurang dari 8% maka akan terjadi likuiditas selain itu simpanan itu juga berguna untuk proses kliring. Namun jika bank tersebut menyimpan uang kurang dari 8% dapat melakukan Call Money. Call Money adalah pinjaman antar bank seolah – olah peminjam memiliki piutang di bank yang meminjamkan pinjamannya.

1.       LIKUIDITAS
Likuiditas adalah suatu faktor yang menentukan bank tersebut layak atau tidaknya untuk memenuhi kebutuhan uang tunai dalam jangka waktu pendek. Jika bank tersebut gagal maka bank tersebut akan dibekukan atau disebut dengan istilah lapse.

2.       KLIRING
kliring merupakan suatu proses untuk melakukan pinjaman antar bank dan dilakukan dengan menggunakan perantara yaitu bank pusat atau dalam hal ini adalah Bank Indonesia. Untuk sekarang ini proses kliring telah dilakukan secara real time (RTGS) atau proses pendebitan atau kredit dapat dilakukan tepat saat itu juga tanpa jeda dan berkali kali dalam sehari.
Terdapat 4 jenis nota kliring :
a.       Nota Debet Keluar
Adalah nota dari bank lain yang disetorkan oleh nasabah untuk keuntungan rekeningnya.
b.      Nota Debet Masuk
Adalah nota yang diterima oleh suatu bank atas cek sendiri yang ditarik oleh nasabahnya
c.       Nota Kredit Keluar
Adalah nota dari nasabah sendiri untuk disetorkan kepada nasabah lain pada bank lain
d.      Nota Kredit Masuk
Adalah nota yang diterima oleh suatu bank untuk keuntungan rekening bank tersebut

Terdapat hubungan antara likuiditas dengan kliring yang dapat dijelaskan dengan ilustrasi berikut :



Penjelasan :
1.       a adalah proses penyimpanan bank 1 dan bank 2 kepada BI sebesar minimal 8% dari deposito tiap bank tersebut.
2.       b adalah proses transaksi nasabah dari bank 1 yang memberikan uang kepada nasabah di bank 2 dengan menggunakan cek dan akan dicairkan di bank 2 tersebut.
3.       c2 adalah proses transaksi dimana bank 2 akan mengeluarkan Nota Debet Keluar yang ditujukan kepada bank 1 melalui perantara bank pusat atau BI. Nota Debet Keluar ini menunjukkan bahwa bank 2 memiliki piutang sejumlah nilai cek yang diberikan bank 1.
C1 adalah proses transaksi dimana bank 2 akan mendapat Nota Debet Masuk dari bank 1 melalui perantara BI. Nota Debet Masuk ini menunjukkan bahwa bank 1 memiliki hutang kepada bank 2
4.       d1 adalah suatu proses transaksi dimana bank 1 akan mengeluarkan Nota Kredit Keluar kepada bank 2 melalui BI
d2 adalah proses transaksi dimana bank 2 menerima Nota Kredit Masuk dari bank 1


Suatu bank menganut hokum bilangan besar (Law of The Large Number) dimana bank akan lebih memilih nasabah yang menyimpan uang lebih kecil namun banyak dari pada nasabah yang menyimpan uang dalam jumlah lebih banyak namun hanya sedikit karena hal ini berfungsi dalam meminimalisir resiko bahwa nasabah yang meminjam tidak dapat mengembalikan uangnya.

Setiap bank juga memerlukan tenaga ahli dalam bidang Sistem Informasi karena berfungsi dalam pengolahan transaksi yang terjadi di setiap harinya. Sistem informasi ini dapat digunakan untuk pengoptimalisasian komposisi presentasi deposit yang harus digunakan untuk simpanan di BI dan dialokasikan pada kredit. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat dari grafik deposit namun grafik ini juga belum tentu sama disetiap harinya karena transaksi tiap nasabag tidak dapat diprediksi. Terlihat gambar grafik seperti berikut :